Friday, November 3, 2023

SEJARAH HARI PAHLAWAN 10 NOVEMBER

 

Kita sudah tau pada tanggal 10 november adalah memperingati hari pahlawan Indonesia,  nah di balik hari pahlawan yang jatuh pada tanggal 10 november kenapa sih..????

Sejarah memperingati hari pahlawan 10 November yaitu Pertempuran Surabaya pada tanggal 10 November 1945 yaitu pertempuran rakyat Surabaya untuk menolak kembali kedatangan sekutu yang mau menjajah Indonesia khusus daerah Surabaya. Pemuda-pemuda Surabaya pada waktu itu mengadakan perlawanan untuk membela dan mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan kita, yang telah di umumkan di Jakarta pada pada tanggal 17 Agustus 1945 tanpa memikirkan resiko, korban dan derita.

Dengan berdasarkan misi Sekutu tersebut, maka jelaslah bahwa kedatangan sekutu ke Indonesia itu untuk maksud yang baik dan bukan untuk menginjak–injak kedaulatan bangsa Indonesia yang telah kita proklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945 tersebut. Untuk menjelaskan sikap politik pemerintah pusat tersebut, maka telah datang pula ke Surabaya suatu delegasi dari Jakarta yang dipimpin oleh Mr. Kasman Singodimedjo (Ketua Komite Nasional Indonesia Pusat), Menteri Pertahanan Mohammad Suryo Adikusumo dan Dr.Kodyat.Sikap politik pemerintahan pusat tersebut sulit diterima oleh rakyat Surabaya pada umumnya yang mencurigai kedatangan Sekutu ke Indonesia tersebut adalah sebagai usaha untuk membantu mengembalikan kolonialisme Belanda di Indonesia, hal ini berhubungan erat dengan kasus Kolonel PG. Huijer, perwira tentara sekutu berkebangsaan Belanda yang datang ke Surabaya pertama kali pada tanggal 23 September 1945, sebagai utusan Laksamana pertama Patterson, pimpinan/angkatan laut sekutu di Asia Tenggara ternyata membawa misi rahasia pula dari pemimpinan tertinggi angkatan laut kerajaan Belanda sehingga makin menambah kecurigaan rakyat Indonesia di Surabaya.

Huijer yang pada saat itu secara terang–terangan menentang revolusi Indonesia, sehingga akhirnya ditangkap dan ditawan oleh aparat keamanan Indonesia. Walaupun demikian pada saat pasukan sekutu mendarat di Surabaya pada tanggal 25 Oktober 1945 tersebut, rakyat Indonesia di Surabaya menerimanya dengan tangan terbuka dan penuh damai.

Pada tanggal 26 Oktober 1945, mulai pukul 09.00 hingga pukul 12.30 berlangsung pertemuan antara wakil–wakil pemerintah Indonesia di Surabaya yang terdiri dari Residen Sudirman ketua KNI, Doel Arnowo, Walikota Rajimin Nasution serta Mohammad, dengan pihak sekutu yang terdiri dari Brigadier Jendral A.W.S. Mallaby dan para stafnya, setelah pertemuan sebelumnya tidak berhasil. Pertemuan tersebut, pasukan 9 Inggris secara berkelompok diperbolehkan untuk menggunakan bangunan yang ada di dalam kota.

Tindakan provokatif tersebut terus berlanjut keesokan harinya yaitu pada tanggal 27 Oktober 1945 pada pukul 11.00 dengan pesawatnya, Inggris menyebarkan pampflet– pampflet di atas kota Surabaya. Surat selebaran tersebut isi pokoknya memerintahkan kepada rakyat Indonesia di Surabaya dan Jawa Timur agar menyerahkan kembali senjata– senjata dan peralatan yang telah dirampas dari tangan Jepang kepada Inggris.

Isi perintah tersebut disertai pula oleh ancaman, yaitu bila masih terlihat oleh pihak Sekutu adanya orang–orang Indonesia yang masih bersenjata serta tidak menyerahkan senjatanya kepada Serikat, maka akan menaggung resiko ditembak, karena isi pamfhlet tersebut sangat bertentangan dengan isi kesepakatan tanggal 26 Oktober 1945, maka Drg. Moestopo dan Residen Soederman segera mengadakan kontak dengan Brigadir Jendral Mallaby.

 Sedangkan tanggapan Brigden Mallaby seakan–akan tidak mau tahu, dengan dalil itu semua dari atasannya dipusat dan sebagai bawahan harus mematuhi atasannya. Akibat tindakan provokatif dan khususnya isi pamflet Inggris tersebut, maka timbullah reaksi keras dari rakyat Indonesia di Surabaya. Kepercayaan pemimpin dan Rakyat Indonesia di Surabaya yang semula telah tumbuh, sekarang mulai hilang.

Sikap rakyat Indonesia di Surabaya terutama para pemuda yang sejak semula telah curiga terhadap maksud kedatangan sekutu, kini tidak mentolelir tindakan provokatif dan ancaman Inggris tersebut. Sikap sabar arek–arek Surabaya telah hilang dan kemarahan besarpun tak bisa dicegah lagi, sehingga kesiap siagapun segera ditingkatkan. Suasana panas di Surabaya tersebut mencapai klimaksnya pada tanggal 28 Oktober 1945. pada hari itu sekitar jam 17.00, markas pertahanan jalan Mawar No. 10. markas dan sekalipun studio radio pemberontakan di bawah pimpinan Bung Tomo, diselenggarakan pertemuan antara sejumlah pemimpin pasukan BPR dan pemimpin badan perjuangan bersenjata. Dalam pertempuran tersebut para pemimpin pejuang di Surabaya sepakat untuk tidak mentolerir tindakan provokatif tentara Sekutu dan mereka sepakat pula untuk segera melancarkan serangan terhadap pasukan Inggris.

Demi kepentingan perjuangan diplomasi dan politik, maka Presiden Soekarno segera memenuhi permintaan pemimpin tentara Inggris di Indonesia untuk menghentikan pertempuran di Surabaya. Esok harinya, 29 Oktober 1945 Presiden Soekarno beserta Wakil Presiden Mohammad Hatta dan Meteri Penerangan Mr. Amir Syarifudin dengan menggunakan pesawat terbang RAF Inggris menuju ke Surabaya.

10 Berita kedatangan Presiden Soekarno dan rombongan tersebut disiarkan oleh radio pemberontakan. Selanjutnya dalam siarannya pada pukul 11.30 menyatakan bahwa apabila yang datang adalah Presiden Soekarno dan untuk menyelesaikan segala perselisihan, maka hendaknya disambut dengan beramai–ramai, tetapi yang datang bukan Soekarno, maka kepada kesatuan yang ada disekitar tempat tersebut diperintahkan untuk menawan siapa saja yang turun dari pesawat. Setelah permusyawaratan, maka Presiden Soekarno segera mengumumkan pernyataan persetujuan gencatan senjata yaitu sebagai berikut:

1. Perjanjian yang telah dicapai adalah untuk menjaga ketentraman.

2. Untuk memperoleh ketentraman dan kedamaian, maka kontak senjata harus dihentikan.

3. Keselamatan penduduk termasuk para tawanan akan dijamin oleh kedua belah pihak.

4. syarat–syarat yang disebarkan dalam wujud pamflet–pamflet pada tanggal 27 Oktober 1945 akan dirundingkan antara Presiden soekarno dengan Panglima tentara pendudukan Jawa.

 5. Penduduk bebas bepergian pada malam hari.

6. Semua satuan harus kembali ketangsinya, sedangkan yang luka– luka diangkut kerumah sakit.

Pada keesokkan harinya pertemuan dilanjutkan antara Presiden Soekarno dengan Mayor Jendral H.C Howthorn. Perundingan tersebut dihandiri pula oleh Wakil Presiden M. Hatta, Menteri Penerangan Amir Syarifudin, Gubernur Suryo dan Residen Sudirman, Bung Tomo, Roeslan Abdulgani, orang dari kepolisian, Doel Arnowo, Soengkono, Atmaji, Sumarsono dari pihak Indonesia dan Brigadir Jendral Mallaby, Kolonel Pugh, Kapten Shaw dan lain–lain.

Dari pertemuan/perundingan tersebut dicapailah kesepakatan mengenai pengakuan exitensi RI, dan cara–cara menghindari bentrokan bersenjata yaitu sebagai berikut:

1. Surat–surat selebaran yang ditanda tangani oleh Jendral H.C Howthorn dan yang dijatuhkan oleh pesawat terbang dinyatakan tidak berlaku.

2. Tentara keamanan rakyat dan polisi diakui oleh serikat.

3. Seluruh kota Surabaya tidak dijaga lagi oleh tentara Serikat kecuali dua tempat yaitu dekat H.B.S dan BPM karena dijadikan tempat tawanan perwira–perwira TKR juga ikut menjaga disini. 11

4. Hubungan dengan TKR dan polisi bersenjata akan tetap diadakan melalui petugas– petugas penghubung.

5. Pelabuhan Tanjung Perak dipaksa untuk sementara waktu dijaga Inggris karena untuk sementara waktu masih diperlukan guna menerima kiriman obat–obatan dan makanan. Dipihak Indonesia juga ikut menjaga pelabuhan Tanjung Perak yang tetap dikuasai RI

Pertempuran Surabaya pada 10 November 1945 itu pun ditetapkan sebagai Hari Pahlawan melalui Keppres Nomor 316 tahun 1959 pada 16 Desember 1959. Keputusan itu ditetapkan oleh Presiden Soerkarno.

No comments:

Post a Comment

nasehat untuk anakku

Hai anakku Azema haris kaan holimombo, yang lahir pada 1 desember 2025. Akhir tahun yang indah engkau hadir di tengah-tengah kehidupan kami ...